Hallo .....

Monday, March 24, 2014

DOKUMEN YANG DILAMPIRKAN DALAM SURAT PEMBERITAHUAN

DOKUMEN LAIN YANG HARUS DILAMPIRKAN DALAM SURAT PEMBERITAHUANBERDASAR KEP - 214/PJ./2001




   KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR KEP - 214/PJ./2001

TENTANG

KETERANGAN DAN ATAU DOKUMEN LAIN YANG HARUS DILAMPIRKAN DALAM SURAT PEMBERITAHUAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Menimbang :

bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 4 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 534/KMK.04/
2000 tentang Bentuk dan Isi Surat Pemberitahuan serta Keterangan dan atau Dokumen yang Harus
Dilampirkan, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak tentang Keterangan dan atau Dokumen
Lain yang Harus Dilampirkan dalam Surat Pemberitahuan;

Mengingat :

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 534/KMK.04/2000 tentang Bentuk dan Isi Surat Pemberitahuan serta
Keterangan atau Dokumen Lain yang Harus Dilampirkan;

                                                                                  MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG KETERANGAN DAN ATAU DOKUMEN LAIN YANG HARUS
DILAMPIRKAN DALAM SURAT PEMBERITAHUAN.


                                                                                            Pasal 1

Dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan Wajib Pajak adalah orang pribadi atau
badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan
kewajiban perpajakan, termasuk pemungut pajak atau pemotong pajak tertentu.


                                                                                            Pasal 2

Keterangan dan atau dokumen lain yang harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak Badan adalah :
1.            Neraca dan Laporan Laba Rugi Tahun Pajak yang bersangkutan dari Wajib Pajak itu sendiri (bukan
               Neraca dan Laporan Laba Rugi konsolidasi grup) beserta rekonsiliasi laba rugi fiskal.
2.            Daftar penghitungan penyusutan dan atau amortisasi fiskal.
3.            Penghitungan kompensasi kerugian dalam hal terdapat sisa kerugian tahun-tahun sebelumnya yang
               masih dapat dikompensasikan.
4.            Surat Setoran Pajak Pajak Penghasilan Pasal 29 yang seharusnya dalam hal terdapat kekurangan
               pajak yang terutang, kecuali ada izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran Pajak
               Penghasilan Pasal 29.
5.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Tahunan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak.
6.            Lampiran-lampiran lainnya yang dianggap perlu untuk menjelaskan Penghitungan besarnya
               penghasilan kena pajak atau besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25.


                                                                                            Pasal 3

Keterangan dan atau dokumen lain yang harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi yang menyelenggarakan pembukuan adalah :
1.            Neraca dan Laporan Laba Rugi Tahun Pajak yang bersangkutan dari Wajib Pajak itu sendiri berserta
               rekonsiliasi fiskalnya.
2.            Daftar penghitungan penyusutan dan atau amortisasi fiskal.
3.            Penghitungan kompensasi kerugian dalam hal terdapat sisa kerugian tahun-tahun sebelumnya yang
               masih dapat dikompensasikan.
4.            Surat Setoran Pajak Pajak Penghasilan Pasal 29 yang seharusnya dalam hal terdapat kekurangan
               pajak yang terutang, kecuali ada izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran Pajak
               Penghasilan Pasal 29.
5.            Surat Kuasa Khusus dalam hal Surat Pemberitahuan Tahunan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak,
               atau Surat Keterangan Kematian dari Instansi yang berwenang dalam hal ditandatangani oleh Ahli
               Waris.
6.            Fotokopi formulir 1721-A1 dan atau 1721-A2, dalam hal Wajib Pajak menerima penghasilan
               sehubungan dengan pekerjaan yang sudah dipotong pajaknya oleh pemberi kerja.
7.            Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang oleh masing-masing pihak bagi Wajib Pajak yang
               kawin dengan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan.
8.            Daftar susunan keluarga yang menjadi tanggungan Wajib Pajak.
9.            Bukti setoran zakat atas penghasilan yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama
               Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk dan disahkan oleh
               Pemerintah.
10.          Lampiran-lampiran lainnya yang dianggap perlu untuk menjelaskan penghitungan besarnya
               penghasilan kena pajak atau besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25.


                                                                                            Pasal 4

Keterangan dan atau dokumen lain yang harus dilampirkan Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib
Pajak Orang Pribadi yang menyelenggarakan pencatatan adalah :
1.            Jumlah peredaran atau penerimaan bruto setiap bulan selama setahun.
2.            Keterangan dan atau dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 4 sampai dengan angka
               10.


                                                                                            Pasal 5

Keterangan dan atau dokumen lain yang harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Pasal 21 adalah :
1.            Surat Setoran Pajak Pajak Penghasilan Pasal 29 yang seharusnya dalam hal terdapat kekurangan
               pajak yang terutang.
2.            Surat Kuasa Khusus dalam hal Surat Pemberitahuan Tahunan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak,
               atau Surat Keterangan Kematian dari Instansi yang berwenang dalam hal Wajib Pajak orang pribadi
               telah meninggal dunia dan Surat Pemberitahuan Tahunan ditandatangani oleh Ahli Waris.
3.            Laporan Keuangan atas kegiatan kerjasama operasi bagi Wajib Pajak Kerjasama Operasi (Joint
               Operation).


                                                                                            Pasal 6

Keterangan dan atau dokumen lain yang harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan
Pasal 21 dan Pasal 26 adalah :
1.            Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan Pasal 26 yang harus
               disetor.
2.            Surat Kuasa Khusus dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak,
               atau Surat Keterangan Kematian dari Instansi yang berwenang dalam hal Wajib Pajak orang pribadi
               telah meninggal dunia dan Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh Ahli Waris.
3.            Daftar bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan Pasal 26.
4.            Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan Pasal 26 selain bagi karyawan atau pegawai tetap.


                                                                                            Pasal 7

Keterangan dan atau dokumen lain yang harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan
Pasal 22 untuk :
1.            Badan usaha industri tertentu :
               a.             Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 22 yang harus disetor.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.
               c.             Daftar bukti pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22.
               d.            Bukti Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22.
               e.             Rincian retur penjualan, dalam hal ada retur penjualan.

2.            Bendaharawan pemerintah/badan lain :
               a.             Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 22 yang harus
                               disetor.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.

3.            Bank Devisa :
               a.             Surat Setoran Pajak Pajak Penghasilan Pasal 22 impor.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.
               c.             Daftar Surat Setoran Pajak Pajak Penghasilan Pasal 22 impor.

4.            Direktorat Jenderal Bea dan Cukai :
               a.             Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 22 yang harus
                               disetor.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.
               c.             Daftar bukti pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22.
               d.            Bukti Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22.
               e.             Risalah lelang, dalam hal pelaksanaan lelang.

5.            Pertamina :
               a.             Surat Setoran Pajak Pajak Penghasilan Pasal 22.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.
               c.             Daftar Surat Setoran Pajak Pajak Penghasilan Pasal 22.


                                                                                            Pasal 8

Keterangan dan atau dokumen lain yang harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan
Pasal 23 dan Pasal 26 adalah :
1.            Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 23 dan Pasal 26 yang harus
               disetor.
2.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak.
3.            Daftar bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 dan Pasal 26.
4.            Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 dan Pasal 26.
5.            Fotokopi Surat Keterangan Domisili yang masih berlaku, dalam hal Pajak Penghasilan Pasal 26
               dihitung berdasarkan tarif Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B).


                                                                                            Pasal 9

Keterangan dan atau dokumen lain yang harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan
Pasal 25 untuk Wajib Pajak baru kecuali Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, dan Wajib
Pajak yang mempunyai penghasilan tidak teratur :
1.            Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 25.
2.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak.
3.            Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang bulan bersangkutan.


                                                                                            Pasal 10

Keterangan dan atau dokumen lain yang harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan
Pasal 4 ayat (2) atas :
1.            Hadiah Undian :
               a.             Surat setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atas hadiah
                               undian.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.
               c.             Daftar bukti pemotongan/pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atas hadiah undian.
               d.            Bukti Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atas hadiah undian.

2.            Bunga deposito/tabungan, diskonto Sertifikat Bank Indonesia, dan jasa giro :
               a.             Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atas bunga
                               deposito/tabungan, diskonto Sertifikat Bank Indonesia, dan jasa giro.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.

3.            Transaksi penjualan saham di bursa efek :
               a.             Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atas
                               transaksi penjualan saham di bursa efek.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.
               c.             Daftar nilai penjualan saham per hari bursa.
               d.            Daftar perantara pedagang efek pemungut Pajak Penghasilan atas penghasilan dari
                              penjualan saham.

4.            Transaksi penjualan obligasi :
               a.             Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atas
                               transaksi penjualan obligasi.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.
               c.             Daftar nilai penjualan obligasi per hari.
               d.            Daftar perantara pedagang efek pemungut Pajak Penghasilan atas penghasilan dari penjualan
                               obligasi.

5.            Persewaan tanah dan atau bangunan, bagi penyewa sebagai pemotong pajak :
               a.             Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atas
                               persewaan tanah dan atau bangunan.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.
               c.             Bukti pemotongan Pajak Penghasilan atas persewaan tanah dan atau bangunan.

6.            Persewaan tanah dan atau bangunan, bagi Wajib Pajak yang bergerak di bidang usaha persewaan
               atas tanah dan atau bangunan dan Pajak Penghasilan yang terutang harus disetor sendiri :
               a.             Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atas
                               persewaan tanah dan atau bangunan.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.

7.            Penyerahan Jasa Konstruksi, bagi penerima jasa sebagai pemotong pajak :
               a.             Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atas jasa
                               konstruksi.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.
               c.             Bukti pemotongan Pajak Penghasilan atas jasa konstruksi.

8.            Penyerahan jasa konstruksi, bagi Wajib Pajak yang bergerak di bidang usaha jasa konstruksi dan
               Pajak Penghasilan yang terutang harus disetor sendiri :
               a.             Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atas jasa
                               konstruksi.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.


                                                                                            Pasal 11

Keterangan dan atau dokumen lain yang harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan
Pasal 15 atas :

1.            Imbalan yang dibayarkan atau terutang kepada perusahaan pelayaran dalam negeri :
               a.             Surat Setoran Pajak Pajak Penghasilan atas imbalan yang dibayarkan atau terutang kepada
                               perusahaan pelayaran dalam negeri.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.
               c.             Bukti pemotongan Pajak Penghasilan atas imbalan yang dibayarkan atau terutang kepada
                               perusahaan pelayaran dalam negeri.

2.            Imbalan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan pengangkutan orang dan atau barang
               termasuk penyewaan kapal oleh Wajib Pajak perusahaan pelayaran dalam negeri dan Pajak
               Penghasilan yang terutang harus disetor sendiri :
               a.             Surat Setoran Pajak atas Pajak Penghasilan yang dibayar sendiri atas imbalan yang diterima
                               atau diperoleh sehubungan dengan pengangkutan orang dan atau barang termasuk
                               penyewaan kapal oleh Wajib Pajak perusahaan pelayaran dalam negeri.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.

3.            Imbalan charter kapal laut dan atau pesawat udara yang dibayarkan atau terutang kepada
               perusahaan pelayaran dan atau penerbangan luar negeri :
               a.             Surat Setoran Pajak Pajak Penghasilan atas imbalan charter kapal laut dan atau pesawat
                               udara yang dibayarkan atau terutang kepada perusahaan pelayaran dan atau penerbangan
                               luar negeri.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.
               c.             Bukti pemotongan Pajak Penghasilan atas imbalan charter kapal laut dan atau pesawat udara
                               yang dibayarkan atau terutang kepada perusahaan pelayaran dan atau penerbangan luar
                               negeri.
               d.            Fotokopi Surat Keterangan Domisili yang masih berlaku, dalam hal pengenaan pajaknya
                               dihitung berdasarkan tarif Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B).

4.            Imbalan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan pengangkutan orang dan atau barang
               termasuk charter kapal laut dan atau pesawat udara oleh Wajib Pajak perusahaan pelayaran dan atau
               penerbangan luar negeri dan Pajak Penghasilan yang terutang harus disetor sendiri :
               a.             Surat Setoran Pajak atas Pajak Penghasilan yang dibayar sendiri atas imbalan yang diterima
                               atau diperoleh sehubungan dengan pengangkutan orang dan atau barang termasuk charter
                               kapal laut dan atau pesawat udara oleh Wajib Pajak perusahaan pelayaran dan atau
                               penerbangan luar negeri.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.

5.            Imbalan charter pesawat udara yang dibayarkan atau terutang kepada perusahaan penerbangan
               dalam negeri :
               a.             Surat Setoran Pajak Pajak Penghasilan atas imbalan charter pesawat udara yang dibayarkan
                               atau terutang kepada perusahaan penerbangan dalam negeri.
               b.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Wajib
                               Pajak.
               c.             Bukti pemotongan Pajak Penghasilan atas imbalan charter pesawat udara yang dibayarkan
                               atau terutang kepada perusahaan penerbangan dalam negeri.


                                                                                            Pasal 12

Keterangan dan atau dokumen lain yang harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak
Pertambahan Nilai dan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penjualan atas Barang Mewah :
1.            Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan Pajak Pertambahan Nilai dan Surat Setoran Pajak
               sebagai bukti pelunasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
2.            Surat Kuasa Khusus, dalam hal Surat Pemberitahuan Masa ditandatangani oleh bukan Pengusaha Kena
               Pajak.
3.            Daftar rincian kendaraan bermotor bagi Pengusaha Kena Pajak dalam mata rantai distribusi kendaraan
               bermotor.


                                                                                            Pasal 13

Surat Pemberitahuan Masa dan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini
harus dilengkapi dan atau dilampiri juga dengan keterangan dan atau dokumen tertentu lain, yang diperlukan
atau disebutkan dalam Surat Pemberitahuan atau petunjuk pengisiannya yang ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Pajak.


                                                                                            Pasal 14

Pada saat Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku, ketentuan yang mengatur mengenai hal yang
sama, dinyatakan tidak berlaku.


                                                                                            Pasal 15

Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku untuk Surat Pemberitahuan Masa Masa Pajak Januari
2001, dan Surat Pemberitahuan Tahunan Tahun Pajak 2001.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.




Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 15 Maret 2001
DIREKTUR JENDERAL,

ttd

HADI POERNOMO

Training Penyusunan Prosedur ISO 14001: 2015 - Indonesia ...



Tidak Termasuk Objek Pajak


Tidak Termasuk Objek Pajak

1.      a. Bantuan atau sumbangan termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah dan para penerima  zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia;
b. hadiah hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus atau sedrajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro  dan kecil yang keuntungannya  diatur dengan  atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha,pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;
2.      Warisan;
3.      Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal;
4.      Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa  yang diterima atau  diperoleh dalam bentuk natura dan atau kenikmatan dari Wajib Pajak  atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak yang menggunakan norma perhitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 UU PPH;
5.      Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan , asuransi kecelakaan,  asuransi jiwa, asuransi dwiguna dan asuransi bea siswa;
6.      Dividen  atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai WP Dalam negeri, koperasi, BUMN atau BUMD dari penyertaan modal  pada badan usaha yang didirikan dan bertempat keduaukan dia Indonesia dengan syarat:
-       Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan ; dan
-       Bagi perseroan terbatas, BUMN dan  BUMD yang menerima,kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen 25% ( dua puluh lima persen ) dari jumlah modal yang disetor;
7.      Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah dishkan oleh Menteri Keuangan, baik yang dibayar pemberi kerja maupun pegawai;
8.      Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun dalalm bidang -bidang tertentu yang dutetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;
9.      Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham saham, persekutuan,  perkumpulan, firma dan komgsi, termsuh pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif;
10.   Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Insonesia dengan syarat badan pasangan usaha tersebut
-       Merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah atau yang menjalankan kegitan dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan denagan Keputusan Menteri Keuangan; dan
-       Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indinesia.
11.   Bea siswa yang memiliki persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur kebih lanjut dengan atau berdasrkan Peraturan Menteri Keuangan, yaitu:
-       Diterima atau diperoleh Warga negara Indonesia dari Wajib Pajak pemberi beasiswa dalam rangka mengikuti pendidikan formal/non formal yang testruktur baik di dalam negeri maupun di luar negeri;
-       Tidak mempunyai hubungan istimewa dengan pemilik, komisris, direktur, pengurus dari wajib  pajak pemberi bea siswa;
-       Komponen bea siswa teriri dari biaya pendidikan yang dibayrakan de sekolah, biaya ujian , biaya penelitian yang berkaitan dengan dengan bidang studi yang diambil, biaya untik pembelian buku dan/biaya hidup yang wajar sesuai dengan daerah lokasi tempat belajar;
12.   Sisa lebih yanga diterma atau diperileh badan atau lembaga nirlaba yanga bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 ( empat tahun) sejak di perolehnya sisa lebih tersebut;
13.   Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara jaminan Sosian kepada wajib pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lajut denagn atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.